Batuan Langka dan Fosil

Batuan Langka dan Fosil

Di Geoarea Ciletuh terdapat batuan langka dan fosil sebagai bagian dari situs warisan geologi. Batuan langka tersebut berupa batuan ofiolit dan batuan metamorf yang berumur lebih dari 60 juta tahun serta batuan bancuh (melange), dan fosil numulites yang berumur Eosen. Batuan ofiolit berasal dari kerak samudra yang terdiri atas: Peridotit, Gabro berlapis, dike gabro, plagiogranit, lava basalt berstruktur bantal dan bagian atasnya di tutupi oleh endapan sedimen laut dalam berupa rijang atau chert. Sedangkan batuan metamorf adalah batuan yang dihasilkan karena adanya proses tumbukan antara kerak benua dan kerak samudra karena tekanan dan temperatur yang tinggi, batuannya terdiri atas: sekis mika, sekis hijau, amfibolit, dan serpentinit, serta batuan sedimen terdiri atas batupasir kuarsa di bagian atas serta batuan bancuh di bagian bawah. Batuan sedimen ini kemudian dikenal sebagai Formasi Ciletuh.

Greenschist (Foto Rinaldi)
Fosil numumulites (Foto Mega FR)
Batuan sedimen laut dalam (Chert-Rijang) di komplek Melange dekat Pulau Kunti (Foto Mega FR)
Batubatik oksidasi (Foto Mega FR)
Lava Bantal FOTO: RON AGUSTA
Lava Bantal FOTO: RON AGUSTA

Lokasi yang paling ideal untuk melihat berbagai jenis batuan langka ini adalah di kawasan Gunung Badak hingga pesisir selatan Pulau Kunti, Kompleks Batu Naga di dekat pantai Batununggul, Sodong Parat di dekat pantai Cikepuh, serta kawasan Gunung Beas, Tegal Pamindangan, Tegal Sabuk, Keusik Luhur, Sungai Cikepuh, Sungai Cikopo dan Citirem. Di kawasan Gunung Badak dapat di jumpai batuan peridotit, gabro, serpentinit, lava bantal, melange, dan fosil nummullites. Sedangkan di komplek batu naga dapat dijumpai lokasi tipe batuan sedimen Formasi Ciletuh yang sebagian telah terkekarkan karena pengaruh tektonik, kekar-kekarnya kemudian diisi oleh kuarsa dan karbonat sehingga membentuk pola tertentu dan kemudian mengalami proses oksidasi sehingga berwarna kuning kecoklatan hingga merah tua sehingga menghasilkan pola yang indah. Batuan di komplek ini oleh penduduk lokal di kenal sebagai batu batik. Kawasan Gunung Beas, merupakan tempat yang paling ideal untuk melihat dan mempelajari batuan peridotit yang berasal dari lapisan paling atas mantel bumi. tempat ini juga memiliki bentuk bukit morfologi yang khas dimana hanya tumbuhan berupa rerumputan yang hidup di atasnya, karena lapisan tanah penutupnya sangat tipis dan kaya akan unsur ferro (Fe) dan magnesium (Mg). Sementara daerah Sungai Cikepuh dan Sodong Parat, merupakan singkapan terbaik untuk mempelajari batuan kerak samudra gabro, plagiogranit dan batuan metamorfik amfibolit dan serpentin yang terjadi karena proses tumbukan.

Peridotit Serpentinit (Foto Rinaldi)
Peridotit Serpentinit (Foto Rinaldi)