KEMBALINYA MACAN TUTUL DI SUAKA MARGASATWA CIKEPUH, GEOPARK CILETUH-PALABUHANRATU

KEMBALINYA MACAN TUTUL DI SUAKA MARGASATWA CIKEPUH, GEOPARK CILETUH-PALABUHANRATU

Foto: Humas BBKSDA

Salah satu penghuni kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh, Macan tutul, sempat diduga punah bersamaan dengan hilannya satwa kunci lainnya. Dugaan tersebut merebak setelah 50% lebih dari kawasan tersebut tidak bervegetasi akibat gelombang perambahan pada awal era refomasi 1998 -2001, diperparah dengan perburuan satwa liar (termasuk macan tutul dan hewan lainnya seperti banteng, merak, buaya, dan lutung jawa) pada masa itu memperkuat dugaan punahnya karivora tersebut dari SM Cikepuh.

Seiring dengan kembalinya vegetasi di SM Cikepuh sebagai hasil dari kegiatan rehabilitasi, harapan untuk hadir kembalinya macan tutul kembali mengemuka. Berawal dari informasi lisan kelompok mahasiswa peneliti Institut Pertanian Bogor dan Masyarakat sekitar kawasan. Lanjutnya, laporan hasil survey mengungkapkan ada tanda-tanda keberadaan macan tutul seperti cakaran, feses (kotoran) dan jejak kakinya. Tetapi, karena minimnya data yang ada membuat banyak pihak sedikit meragukan kebenaran dan harapan dari informasi tersebut.

Balai Besar KSDA Jawa Barat menjawab keraguan tersebut, sebagai pengelola kawasan SM Cikepuh, bersama masyarakat dan elemen lainnya melakukan observasi mengenai kebenara informasi keberadaan macan tutul tersebut. Dengan menggunakan alat bantu kamera jebak yang dikonsentrasikan pada lokas-lokasi yang diduga menjadi wilayah jelajah macan tutul serta area yang bayak ditemukan tanda-tanda keberadaan karnivora besar tersebut.

Foto: BBKSDA Jabar

Hasilnya, setelah beberapa hari pengamatan diantara bulan Juli – Agustus 2016, 4 kamera berhasil menangkap 7 frame video yang menunjukan aktivitas macan tutul di SM Cikepuh. Dari video tersebut terungkap bahwa sebanyak 3 individu macan tutul yang tertangkap kamera merupakan macan tutul dengan pola tutul kuning, sedangkan satu individu merupakan varian tutul hitam atau yang sering dikenal dengan macan kumbang. Hasil identifikasi diketahui bahwa macan tutul yang tertangkap kamera merpuakan individu yang berbeda. Melalui analisa sederhana, diprediksi bahwa populasi macan tutul di SM Cikepuh saat ini sekitar 12 ekor. Namun demikian, masih dibutuhkan pengamatan yang lebih intensif untuk mengetahui kepastian jumlah individu serta sex ratio macan tutul di SM Cikepuh.

Foto: Humas BBKSDA Jabar

Keberadaan macan tutul menurut hasil kajian ini merupakan informasi yang penting bagi Balai Besar KSDA Jawa Barat sebagai pengelola dari SM Cikepuh. Tindak lanjutnya, Balai Besar KSDA menyusun program kerja yang disandingkan dengan program strategis kawasan lainnya, seperti inventarisasi macan tutul, mitigasi konflik macan tutul, pengendalian kebakaran hutan, pengembangan zona inti Geopark Ciletuh, reintroduksi banteng dan satwa lainnya serta persiapan habitat kedua untuk Badak Jawa.

Sustyo Iriyono, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, menegaskan bahwa hadirnya kembali macan tutul di SM Cikepuh menjadi bukti dari keberhasilan upaya restorasi kawasan konservasi. SM Cikepuh merupakan sebuah ekosistem dari interaksinya tumbuhan dan satwa liar, maka upaya restorasi kawasan seharusnya bukan hanya dilakukan terhadap tumbuhan saja, melainkan juga terhadap satwa liar yang ada. Upaya memasukan kembali satwa-satwa yang pernah hidup di dalamnya (reintroduksi) satwa merupakan program strategis kawasan yang perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak.

Oleh: Ilham Mochammad Saputra

Sumber info: Humas BBKSDA Jawa Barat.