Loji – Puncak Darma, Jalur baru menikmati Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu

Loji – Puncak Darma, Jalur baru menikmati Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu

SUKABUMI – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) pada akhir tahun 2017 lalu meninjau jalan Loji – Puncak Darma yang berada di Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Jalan baru yang masih dalam kondisi mulus  itu disebut sebagai Sabuk Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu.

Jalan yang menghubungkan Loji dengan Puncak darma ini memiliki panjang jarak 23 km. Dikutip dari Humas Jabar, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan pembangun jalan tersebut merupakan tahap pertama dari tiga tahap untuk tiga jalur menuju Puncak Darma.

Keindahan alam yang disajikan di Jalan Loji – Puncak Darma tidak diragukan lagi. Kita dapat menikmati keindahan pesisir pantai dan hijaunya hutan dan perbukitan di sisi lainnya. Ahmad Heryawan yang didampingi oleh Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Jawa Barat M Guntoro, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedi Taufik, serta Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat Djafar Ismail menyatakan “Ini semakin mengokohkan bahwa kawasan ini layak menjadi kawasan wisata dan menjadi bagian Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu yang paling inti. Kawasan yang dilewati oleh jalan yang membentang dari Loji sampai ke Puncak Darma lalu ke Palangpang dan kemudian terus kita telusuri sampai dengan Ujung Genteng,”.

“Kalau itu (semuanya) sudah jadi, maka Sabuk Geopark itu terlihat. Jadi, Sabuk Geopark itu membentang dari Cibareno melewati arah Palabuhan Ratu kemudian masuk ke Loji lalu ke kawasan kehutanan sampai ke Puncak Darma turun ke Palangpang sampai terus menyusuri pantai hingga ke Ujung Genteng. Itulah SabukGeopark Ciletuh-Palabuhan Ratu,” jelasnya. Menurutnya, pembangunan jalan ini merupakan sejarah. Karena ada kerjasama antara Pemprov Jawa Barat dengan masyarakat. Jalan ini dibangun tanpa proses pembebasan lahan, karena masyarakat menghibahkan tanah untuk pembangunan jalan yang menelan anggaran APBD Provinsi Jawa Barat hingga Rp 200 Miliar.

“Ini juga sejarah yang baik, kerjasama antara Pemprov (Jawa Barat) dengan masyarakat. Karena jalan ini dibangun cepat dari mulai penataan lahan sampai pembangunan bisa dilakukan satu tahun,”. Ucap Ahmad Heryawan, “Dan uniknya seluruh lahan tidak ada yang beli. Dari masyarakat hibah, karena masyarakat tentu menginginkan ada jalan disini. Supaya lahan mereka (masyarakat)  jadi terbuka dan rekreasi juga bisa dinikmati dengan baik,” ungkap Ahmad Heryawan.

Rencananya, dari tiga jalur yang sedang dan akan dikerjakan Paluran-Puncak Darma, Loji-Puncak Darma, dan Paltiga-Puncak Darma kedepannya tidak boleh dilewati bus besar dan truk tidak boleh menggunakan jalan tersebut, dikarenakan akan dibuat menjadi kawasan wisata untuk menghidupkan ekonomi kawasan dan pemeliharaan.

“Jadi, kalau nanti ada rombongan wisata yang menggunakan bus, kita nanti akan sediakan terminal bus, lalu mereka (wisatawan) bisa menikmati (jalan dan keindahan geopark) dengan kendaraan kecil atau kendaraan wisata. Supaya apa, supaya ekonomi hidup dan saat yang sama jalan tidak cepat rusak,” tutur Aher. “Plus yang kedua, kita ingin jaga kebersihannya. Kalau kendaraan disini khusus untuk wisata kan kebersihannya bisa terjamin dengan baik, disamping tentu penyediaan tempat-tempat sampah. Dan pembiasaan juga kontrol,” tambahnya.

“Hal seperti itu harus kita pikirkan ke depan, sehingga kawasan ini bisa menjadi kawasan wisata masa depan. Kalau Bali kan masa kini,” katanya. “Asal ditata dengan baik, kita berkoordinasi dengan masyarakat supaya masyarakat paham. Hadirnya kawasan geopark ini bukan untuk menyengsarakan masyarakat. Tapi justru untuk membuka peluang yang lebih sejahtera dan dengam cara yang benar, dengan cara yang akran dengan alam, tidak merusak alam,” Pungkas Ahmad Heryawan, dikutip dari website Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Oleh: Ilham Mochammad Saputra