RENGKONG DAN SÈRÈN TAUN’

RENGKONG DAN SÈRÈN TAUN’

RENGKONG

Kawasan Geopark bukan hanya tentang kebumian, tetapi juga tentang keragaman budaya dan hayati yang bernilai untuk ilmu dan pengetahuan. Di Ciletuh-Palabuhanratu, khususnya di Kasepuhan Adat Banten Kidul, terdapat beberapa kampung adat yang memiliki kearifan lokal yang luar biasa dan patut ditiru, yakni budaya bertani atau ‘tatanèn’.

Tanah, bagi mereka diibaratkan sebagai ‘ibu kandung’ yang hanya bisa melahirkan setahun sekali. Begitu pun tanah, hanya boleh ditanami setahun sekali, dan tidak menggunakan pupuk kimiawi. Karena tanah harus pulih agar sehat kembali.

Setelah panen, mereka melaksanakan peringatan tahunan dalam rangka bersyukur atas apa yang di dapatkan dari sang “ibu kandung” dengan menggelar acara ‘sèrèn taun’. Dalam acara ini ditampilkan berbagai kesenian, antara lain ‘Rèngkong’ seperti terlihat dalam gambar.

RENGKONG

Istilah rèngkong diambil dari nama alat untuk memikul padi. Alat ini terbuat dari bambu gombong dan untuk mengikat padinya menggunakan tali injuk. Rengkong dimainkan dengan dipikul sambil berjalan, ayunannya menghasilkan suara yang ritmis karena gesekan tali injuk dengan bambu. Suara ritmis itulah yang menjadi karsa untuk dibuat suatu pertunjukan. Me-rèngkong beramai-ramai.

Ini merupakan kekayaan budaya yang harus dipertahankan. Oleh sebab itulah UNESCO menetapkan Ciletuh-Palabuhanratu menjadi kawasan pendidikan kebudayaan dan pertanian.  bila berminat menyaksikan keseruan ‘sèrèn taun’, silakan datang ke Kasepuhan Sinar Resmi di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tanggal 7 – 8 Juli.

Oleh: Ron Agusta dan Ilham Mochammad Saputra