Sambut Panen Ciptagelar Ke-648

Sambut Panen Ciptagelar Ke-648

Rengkong - Photo: Ron Agusta

Kampung adat kasepuhan ciptagelar yang terletak di kecamatan cisolok, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Kampung adat Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah kampung adat yang mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat yang tinggal di Kampung Ciptagelar disebut masyarakat kasepuhan. Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan /ka/ dan akhiran /an/. Dalam bahasa Sunda, kata sepuh berarti (kolot) atau tua dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pengertian ini, muncullah istilah kasepuhan, yaitu tempat tinggal para sesepuh. Sebutan kasepuhan ini pun menunjukkan model atau sistem kepemimpinan dari suatu komunitas atau masyarakat yang berasaskan adat kebiasaan para orang tua (sepuh atau kolot).

Abah Ugi Pemimpin Adat Kasepuhan Ciptagelar - Photo: Ron Agusta

Abah Ugi Pemimpin Adat Kasepuhan Ciptagelar – Photo: Ron Agusta

Kampung adat Kasepuhan Ciptagelar merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Pada tahun 2001, sekitar bulan Juli, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan “hijrah wangsit” ke Desa Sirnaresmi yang berjarak belasan kilometer. Di desa inilah, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan kampung adat memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang baru. Ciptagelar yang kini dipimpin oleh Abah Ugi anak dari Abah Anom atau Bapa Encup ini artinya terbuka atau pasrah. Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena “perintah leluhur” yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. Oleh karena itulah perpindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya. Masyarakat atau warga Kampung Ciptagelar sebenarnya tidak terbatas di kampung tesebut saja tetapi bermukim secara tersebar di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Namun demikian sebagai tempat rujukannya, “pusat pemerintahannya” adalah Kampung Gede, yang dihuni oleh Sesepuh Girang (pemimpin adat), Baris Kolot (para pembantu Sesepuh Girang) dan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang ingin tinggal sekampung dengan pemimpin adatnya. Kampung Gede adalah sebuah kampung adat karena eksistensinya masih dilingkupi oleh tradisi atau aturan adat warisan leluhur. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km dan dari Bandung 203 Km ke arah Barat.

Acara yang dihadiri oleh berbagai kalangan ini diadakan pada tanggal 27-28 Agustus 2016 sangat ramai. Tamu yang datang ke acara ini berasal dari berbagai daerah, terlihat dari hiruk pikuk imah gede rumah yang digunakan untuk menampung tamu yang datang ke Kampung Kasepuhan Ciptagelar. Acara ini juga dihadiri Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi, S.H sang Dangiang Ki Sunda. Beliau yang lekat dengan budaya sunda ini terlihat menggunakan ikat kepala khas sunda mengangkat pocongan padi yang dibawa berkeliling kampung sebelum dimasukan (didiukeun) ke dalam leuit.

Kampung adat kasepuhan ciptagelar adalah bagian dari Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu (GNCP) terletak di Geoarea simpenan yang kaya akan keragaman budaya sunda. Masuknya geoarea simpenan dimana Ciptagelar berada ke kawasan GNCP menjadi faktor kuat akan didapatkannya pengakuan UGG dari unesco yang sedang dicanangkan rampung pada tahun 2017. Perlu kita ingat kembali bahwa adanya geopark harus bisa memuliakan alam dan mensejahterakan rakyatnya, dengan masukya Kampung adat kasepuhan ciptagelar semoga dapat meningkatkan kesejahteraan warga Kampung Ciptagelar dan sekitarnya.

Pare ciptagelar - Photo: Ron Agusta

Pare ciptagelar – Photo: Ron Agusta

Seren taun adalah Seren sendiri berarti seserahan atau menyerahkan, taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai warga sebagai upacara penyerahan sedekah(tatali) hasil panen padi selama setahun serta memohon berkah pada Tuhan agar hasil panen tahun mendatang lebih meningkat. Sebagai masyarakat agraris, kehidupan masyarakat adat kasepuhan bergantung dari budidaya padi. Secara turun-temurun mereka menanam padi menggunakan sistem lahan kering atau huma maupun lahan basah atau persawahan. Dalam setahun warga hanya sekali menanam padi, setelah panen lahan akan diistirahatkan. Mereka percaya alam perlu keseimbangan, dengan diistirahatkan maka akan memulihkan lahan agar kembali subur. Sebagai peghormatan terhadap padi yang menjadi sumber utama kehidupan mereka, masyarakat adat kasepuhan melakukan berbagai ritual dari padi ditanam hingga padi dipanen. Semua hasil panen padi dimanfaatkan untuk kebutuhan warga kasepuhan, tidak ada yang dijual. Meskipun hanya menanam padi sekali dalam setahun, alhamdulillah warga tidak pernah kekurangan beras. Di sini warga juga pantang membuang nasi. Akan sakit fisik jika membuang nasi”, ujar Upar Suparman, warga Kasepuhan Ciptagelar.

ngadiukan pare ka si jimat - Photo: Ron Agusta

ngadiukan pare ka si jimat – Photo: Ron Agusta

Sebagai ritual terakhir dari prosesi Seren Taun adalah upacara Ngadiukeun, atau memasukkan pocong padi ke Leuit Si Jimat oleh Pimpinan Adat Kasepuhan Ciptagelar yaitu Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Kidung puji-pujian kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan iringan suara kecapi menambah sakral suasana di pelataran Leuit Si Jimat. Usai pocong padi pertama dimasukkan ke Leuit Si Jimat, warga mengikuti memasukkan padi ke leuit karuhun atau lumbung komunal milik Kasepuhan. Mulanya Leuit Si Jimat digunakan untuk cadangan warga jika seandainya terjadi musim paceklik. Tapi saat ini warga tidak pernah mengambil dari Leuit Si Jimat, karena di setiap kampung di Kasepuhan terdapat lumbung komunal yang jumlahnya ratusan dan bisa dimanfaatkan warga”, ujar Humas Kasepuhan, Yoyo yogasmana.

Masyarakat Kampung Ciptagelar adalah masyarakat yang memegang teguh adat istiadat. Setiap kegiatan sosial dalam masyarakat selalu dimulai dengan suatu upacara yang oleh mereka disebut doa amit. Doa amit dimaksudkan untuk memohon perlindungan para karuhun, para dewa, dan Yang Maha Kuasa agar terhindar dari berbagai bencana. Pada saat akan memulai menanam padi baik di sawah maupun di ladang, sesepuh girang bersama para pembantunya berziarah ke makam nenek moyangnya yang berada di daerah Bogor Selatan dan Banten Selatan. Di hadapan pusara, sesepuh girang memanjatkan doa amit. Pada malam harinya, dilakukan upacara selamatan di rumah sesepuh girang yang dihadiri oleh para tokoh adat dan segenap sesepuh kampung.

Menurut mereka, berbagai pelanggaran terhadap padi dan tata cara dalam pemeliharaannya, akan menimbulkan ketidakberhasilan panen (tidak sesuai dengan yang diharapkan). Oleh karena itu mudah dimengerti apabila setiap siklus pertanian tidak lepas dari berbagai upacara, misalnya: upacara sasarap, ngabersihan, ngaseuk, tebar, mipit, ngadiukeun, nganyaran, ponggokan, dan seren taun. Leuit bagi warga Kasepuhan Ciptagelar tidak hanya berarti gudang tempat penyimpanan padi melainkan berkaitan dengan kepercayaan mereka yakni simbol dari penghormatan mereka pada Dewi Sri (dewi penguasa dan pemelihara padi). Kepercayaan tersebut telah terinternalisasi dalam kehidupan mereka, sehingga berdasarkan kepercayaan mereka apabila padi tidak disimpan di leuit maka mereka bisa kabendon (celaka).

Manifestasi dari kepercayaan tersebut di atas adalah adanya kebiasaan, aturan atau pantangan/tabu yang berkaitan dengan leuit, misalnya : tabu menjual beras dan menggiling padi dengan heuleur (mesin perontok padi). Masyarakat diperbolehkan menjual padi dengan syarat padi yang dijual adalah padi hasil panen tahun lalu yang telah dirasulkeun secara adat oleh sesepuh girang. Dalam hal ini warga kasepuhan hanya menjual kelebihan padi hasil panen tahun lalu.

Oleh: Ilham Mochammad Saputra