Sejarah dan Situs Budaya

Leuit FOTO: ADI HARDIYONO

Leuit FOTO: ADI HARDIYONO

Nama Ciletuh berasal dari kata bahasa Sunda, “Ci”, “Leuteuk dan Kiruh” yang berarti air sungai yang berlumpur. Hulu Sungai Ciletuh terletak di desa Ciletuh Kecamatan Jampangkulon. Nama “Ciletuh” juga digunakan sebagai nama formasi geologi yang sangat dikenal bagi peneliti geologi kawasan Indonesia, khususnya Jawa Barat.  Formasi Ciletuh adalah satuan batuan yang terdiri atas batupasir kuarsa – konglomeratik dan mengandung sisipan tipis batubara, berumur Eosen (45 juta tahun lalu) dengan lokasi tipe berada di kawasan pesisir Geoarea Ciletuh.
Lembah Amfiteater FOTO: MEGA FATIMAH ROSANA
Ci Letuh FOTO: MEGA FATIMAH ROSANA
Leuit FOTO: ADI HARDIYONO
Leuit FOTO: ADI HARDIYONO
Kawasan Ciletuh, di masa lalu merupakan bagian dari wilayah yang mendapat pengaruh dari keberadaan kesatuan adat Kasepuhan Banten Selatan. Menurut laporan masyarakat bahwa sampai dengan awal abad 20, di Ciletuh masih dijumpai “leuit-leuit” atau rumah khusus terbuat dari kayu dan bambu tempat penyimpanan padi secara adat. Saat ini sisa-sisa area kampung adat terletak di Kampung Lamping Desa Girimukti, Makam Mbah Durak di Desa Mekarjaya, dan Kampung Cipondok, Kecamatan Waluran.  Sehingga kawasan tersebut harus di lestarikan sebagai kampung adat leluhur masyarakat di kawasan Ciletuh.

Pada era penjajahan Belanda, kawasan Sukabumi selatan merupakan daerah perkebunan teh dan kelapa. Perkebunan teh peninggalan jaman Belanda tersebut masih aktif sebagai perkebunan dan pabrik teh Bojongasih di Kecamatan Ciemas, dan perkebunan kelapa terdapat di Kecamatan Ciracap. Pada masa penjajah Jepang, wilayah Ciletuh juga merupakan bagian dari kawasan pertahanan tentara Jepang. Di kawasan ini masih bisa ditemukan reruntuhan benteng pertahanan dari serangan musuh berupa Bunker di Waluran dan Ujunggenteng serta reruntuhan pelabuhan laut didaerah Ujunggenteng.