Standar Teknis Inventarisasi Keragaman Geologi dan Identifikasi Warisan Geologi dan Petunjuk Teknis Asesmen Sumberdaya Warisan Geologi untuk dapat membantu mengenali kekayaan alam geologi telah diluncurkan oleh Pusat Survey Geologi

Standar Teknis Inventarisasi Keragaman Geologi dan Identifikasi Warisan Geologi dan Petunjuk Teknis Asesmen Sumberdaya Warisan Geologi untuk dapat membantu mengenali kekayaan alam geologi telah diluncurkan oleh Pusat Survey Geologi

[Bandung, 15 November 2017] Indonesia merupakan pertemuan antara Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Samudera Hindia-Australia, dan Lempeng Samudera Pasifik, sehingga Indonesia dianugerahi keragaman geologi  (geodiversity) yang unik dan memiliki potensi warisan geologi (geoheritage) yang besar. Suatu daerah/kawasan yang memiliki geodiversity dan geoheritage sangat berpotensi untuk dijadikannya Geopark. Saat ini Indonesia telah memiliki 2 UNESCO Global Geopark (Gunung Sewu dan Batur) dan 4 Geopark Nasional (Toba, Merangin, Ciletuh-Palabuhanratu, dan Rinjani), serta 15 kandidat Geopark Nasional (informasi lebih lanjut http://geoparks.id/id/peta-distribusi-anggota-ign/).

Untuk menjadi Geopark, suatu daerah harus mengikuti aturan di negara masing-masing yang terkait konservasi terhadap kekayaan sumberdaya geologi. Pusat Survey Geologi berusaha untuk melakukan pembenahan tata kelola inventarisasi geodiversity, identifikasi geoheritage, dan melakukan akselerasi kegiatannya melalui peluncuran pedoman Standar Teknis Inventarisasi Keragaman Geologi dan Identifikasi Warisan Geologi dan Petunjuk Teknis Asesmen Sumberdaya Warisan Geologi pada hari Rabu, 15 November 2017 di Bandung. Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh berbagai pihak yang berkepentingan diantaranya internal Kementerian ESDM, Pemerintah Daerah, Kementerian terkait, Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Perguruan Tinggi, Badan Pengelola Geopark, dan lain-lain.

Petunjuk Teknis Asesmen Sumberdaya Warisan Geologi merupakan pedoman dalam melakukan penilaian terhadap situs warisan geologi dengan melihat kelebihannya dari nilai ilmiah, nilai edukasi, nilai potensi wisata serta resiko kerusakannya. Dengan petunjuk ini Pemerintah Daerah melakukan self-assessment terhadap potensi warisan geologi di daerah masing-masing untuk kepentingan pendidikan, pariwisata, dan perencanaan tata ruang. Dalam sambutannya, Hedi Hidayat berharap agar Standar Teknis dan Petunjuk Teknis tersebut dapat menjadi pijakan terwujudnya sistem pengelolaan sumberdaya geologi meliputi standar inventarisasi, teknik asesmen, dan evaluasi potensi geoheritage, yang selanjutnya dapat menjadi acuan dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi warisan geologi untuk konservasi geologi, pendidikan, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan sistem yang telah dibangun tersebut, diharapkan dapat meningkatkan sinergitas antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, serta bersama-sama Perguruan Tinggi dan Kementerian/Lembaga terkait mengelola sumberdaya warisan geologi.

Oleh: Nugraha Ardiansyah