VERIFIKASI OLEH UNESCO DI HARI KEDUA

VERIFIKASI OLEH UNESCO DI HARI KEDUA

SUKABUMI – Di hari kedua penilaian, assesor mengunjungi Pulau Kunti. Di Pulau Kunti, tim ahli geologi menerangkan dan menunjukan batuan bukti subduksi dan batuan hasil gunung api bawah laut (Lava bantal). Selain itu, di lokasi ini telah dipasangkan papan informasi yang juga ditunjukkan kepada asesor UNESCO. Di Pulau Kunti juga hadir guide lokal dari PAPSI dan petugas hutan Cikepuh yang menjelaskan perannya dalam konservasi. Dilanjutkan ke Curug Cimarinjung, selain menjelaskan tentang asal-usul nama curug dan mitos-mitos yang berkembang, dijelaskan juga mengenai pembentukan curug-curug yang ada di dinding amfiteater Ciletuh, pembentukan amfiteater akibat gravitational collapse dan proses erosi.

Kegiatan assesor dilanjutkan ke salah satu villa yang berada di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu untuk membahas paparan tentang pengembangan, keuntungan dan peningkatan sektor ekonomi kerakyatan melalui budidaya sidat yang dikelola oleh masyarakat lokal yang dibimbing oleh PT. Bio Farma. Di Curug Cimarinjung geologist lokal dan warga yang berada disana menjelaskan kepada assesor tentang Curug Cimarinjung yang merupakan salah satu singkapan formasi Jampang yang terbaik. Di curug ini terlihat perlapisan yang jelas dari batupasir tufan dan breksi. Batuan ini diendapkan di lingkungan laut dengan sistem kipas bawah laut.

Satu jalur dengan kedua geosite sebelumnya assesor mampir untuk mengunjungi SDN Tegal Caringin, salah satu sekolah yang berada di Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu ini sudah menerapkan kurikulum implementasi tentang geopark, memiliki geopark corner sebagai sarana pembelajaran yang berisi tentang informasi geopark  dan melaksanakan kegiatan lapangan school to geopark, geopark to school.

Rombongan dengan assesor pergi ke Panenjoan. Guide lokal disini menjelaskan Pembentukan amfiteater Ciletuh dan asal nama Panenjoan, keterkaitan efek positif pengembangan homestay dan peran serta masyarakat di kawasan GNCP sambil menikmati makan siang dan alunan musik tradisional dari warga lokal. Penilaian dilanjutkan ke museum konservasi didampingi ketua PAPSI untuk melihat koleksi-koleksi bukti geo-diversity, bio-diversity dan culture-diversity.  Selain itu, menjelaskan mengenai peran PAPSI dalam pengembangan masyarakat untuk geopark, berupa kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di dalam kawasan selama ini.

Oleh: Ilham Mochammad Saputra